Party, Perjalanan

Cimande : Tutut, Peuteuy, Kambing

Ini kisah dari perjalanan ke rumah rekan kami, sebut saja Abah, di Cimande, ya Desa Cimande dekat tempat pengobatan yang terkenal untuk patah tulang dan sebangsanya. Tutut dalam panci perebusanTujuannya untuk menghadiri perayaan ulang tahun beberapa rekan yang digabung menjadi satu dan dirayakan bersama disalah satu peternakan terpadu disana (domba garut, ayam kampung dan ikan). Salah satu santapan khas yang menanti disana adalah Tutut, sejenis keong sawah berukuran kecil. Direbus secara sederhana tanpa bumbu, hanya dengan tambahan garam dan daun semacam daun jambu, lupa bertanya pada Ambu pembuatnya. Ini pengalaman pertama kali buat saya memakan Tutut.

Tutut siap makan Memakan tutut merupakan kenikmatan tersendiri, namun harus memiliki jam terbang rupanya. Bagi rekan-rekan yang ahli nampak sangat mudah, sekedar disedot dari cangkangnya langsung, begitu cepat dan nikmat. Bagi pemula seperti saya, harus berbekal alat pencungkil, dalam hal ini menggunakan tusuk gigi. Dengan bantuan alat inipun masih sulit sekali mencungkil, keluar daging siput yang kecil-kecil ini. Belum lagi menyedot daging siput supaya mau keluar, Wadah makan disposable ramah lingkungan wah lebih payah lagi hasilnya. Ukuran terbesar paling sebesar jempol jari tangan, jadi bisa dibayangkan kerepotan dan hasil yang diperoleh. Namun imbalan dari jerih payah ini adalah kenikmatan khas pedesaan, tekstur kenyal khas siput yang menggoda gigi dan lidah untuk mengorek dan menyedot lebih banyak lagi. sensasi rasa yang timbul dari daging Tutut ini tidak kalah dengan saat kita menikmati hidangan escargot di Java Bleu, yang penuh bumbu tentu saja.

Peuteuy Santapan berikutnya tidak kalah menarik, apalagi kalau bukan Peuteuy dengan sambel nongggeng dan daun singkong rebus, wah sambel uleg yang sederhana tapi rasanya sangat dahsyat memang cocok sekali Sambelmenemani peuteuy, alias pete. Makan peuteuy  di suasana desa dan peternakan jelas berbeda dengan makan ditengah kota.  Tambah sampai berkali-kali sudah pasti. Jadi teringat pertama kali makan peuteuy dengan sukarela, itu baru 12 tahun lalu, yakni di desa nelayan tempat kami singgah dalam trip mancing di Ujung Genteng. Itupun Daun singkong rebussetelah terprovokasi oleh teman-teman pemancing orang Singapura yang sangat lahap memakan peuteuy, karena penasaran sayapun mencobanya, disantap hanya dengan cabe uleg dan nasi. Luar biasa sekali dan sejak saat itu semangat sekali untuk menyantap peuteuy bila sempat.

Gule kering .... Meskipun di peternakan domba, menu utama hari ini bukan domba karena yang dipelihara adalah domba garut untuk aduan, jadi dihidangkan kambing guling dan gule kambing kering. Kambing guling dibuat sendiri dari kambing pilihan, mengambil dari peternak setempat, demikian juga gulenya. Kambing guling mungkin tidak usah banyak diceritakan, karena sering dirasakan. Gule kering Yang istimewa adalah gule kering, yang dimaksud adalah gule yang hampir tidak ada kuahnya sehingga potongan-potongan besar daging dan tulang kambing tertata dengan rapi diwadahnya. Karena sudah hampir tak berkuah rasa gule yang gurih dan lezat menonjol sekali, dan daging maupun tulang muda yang ada begitu mudah digigit, aduh satu kenikmatan yang amat sangat. Akibatnya, hm jangan ditanya berapa kali tambahnya.

Sayang sekali tutut dan gule kering ini adalah masakan Ambu yang tidak komersial, jadi tidak bisa setiap saat diperoleh.

Domba juara ditengah haremnya

Standar

3 thoughts on “Cimande : Tutut, Peuteuy, Kambing

  1. Ping-balik: Cimande : ada juga peda, pepes & goreng, dll « Makan Lagi – Lagi Makan

  2. Ping-balik: Cimande: sate domba, es goyobod, bayi ikan mas « Makan Lagi – Lagi Makan

  3. yvonne berkata:

    Sebenernya tutut bisa di masak apa saja, mama ku suka memasaknya jadi rawon agak kering, kita semua menyukainya =) protein pada tutut itu tinggi sekali. hmmm pengen banget makan tutut iiihhh…selain tutut, kol nene juga enak hehe…supaya gak amis, harus kasih jahe sedikit saat memasak.

Mari berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s