Event

Setetes Air Mata & Masakan Ibu Endang

SMS yang saya terima sore itu bunyinya kurang lebih begini, ‘Tempat kita berkumpul besok jam 5 sore di Auditorium RS Kanker Dharmais’. Pikiran dalam benak saya, ada makanan apa ya disekitar Kota Bambu situ kok ngumpulnya di RS, tapi karena naif ya saya tidak cari tahu lebih banyak dan melanjutkan aktifitas sepeerti biasa. Keesokannya jam 5 sore sampailah saya di RS Kanker Dharmais, dan bergegas menuju Auditorium setelah menanyakan lokasinya pada petugas.

Semangat juang tercermin disini

Tiba di auditorium, sudah nampak beberapa orang lain yang juga saya tidak kenal, dan sedang disiapkan meja-meja untuk makan. Hah … waduh, kirain kumpulnya saja disini biar gampang, ternyata memang bakal makan di RS nih. Sebelum sempat berpikir banyak, nampaklah satu-satunya orang yang saya kenal, Lisa Virgiano. Dia segera menyambut  orang-orang yang datang, termasuk saya. YOAI Selanjutnya diperkenalkan kepada kita seorang relawan dari Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI), ‘sambil menunggu waktu berbuka, Ibu ini akan mengantar teman-teman untuk melihat bangsal perawatan anak RS Kanker Dharmais yang bekerjasama dengan YOAI. Oh iya, YOAI ini berperan penting dalam membantu edukasi tentang kanker pada anak ke seluruh masyarakat, dan juga membantu pembiayaan pengobatan bagi anak yang tidak mampu (lebih lengkap bisa lihat websitenya)

Mulailah perjalanan melintasi lorong-lorong rumah sakit, Ruang bermain dari auditorium sampai ke lift untuk menuju lokasi yang dituju di lantai 4. Disini kami berkesempatan untuk melihat suasana bangsal yang berbeda dengan bagian lain di RS ini, katanya sih desain bangsal ini mengikuti salah satu RS terkenal di Belanda. Memang setelah masuk bangsal dengan daya tampung 15 pasien Belajar disini ini, kita merasakan seolah-olah berada pada tempat bermain kanak-kanak, penuh hiasan dan pernak pernik ceria khas anak-anak, apalagi di tempat bermain dan belajarnya wah seru banget deh. Juga sedang dibangun bangsal untuk perawatan remaja, dengan karakteristik sedikit berbeda dengan bangsal anak.

Selesai dari sana, rombongan kami kembali ke auditorium, dan dipersilahkan mengambil tempat duduk di meja-meja yang telah disediakan. Tapi kok rasanya masih banyak sekali tempat kosong ya? Oh ternyata kejutan berikut telah menanti, tamu istimewa yang ditunggu sore itu adalah anak-anak penderita kanker dan orangtuanya. Sebagian kelihatan seperti anak biasa saja, meskipun ada yang jelas nampak menderita retinoblastoma (kanker mata). Bahkan salah satu putri cantik yang duduk semeja dengan kami menurut ibunya telah mengalami operasi pengangkatan indung telur untuk mencegah penyebaran. Cuma ada satu hal yang nampak sangat berbeda, mereka rata-rata (baik anak maupun orangtua) nampak sangat bersemangat! Hal ini sangat melegakan bagi saya, karena perjuangan melawan apapun dasarnya adalah semangat, dan mereka tidak kehilangan ini. Disini YOAI sangat berperan rupanya, karena adanya program ‘Family Support Group’.

Setelah sebentar berkenalan, dilanjutkan dengan berbuka puasa dalam kebersamaan. Makanan yang dihidangkan basisnya P9050344 organik, dengan bahan yang diperoleh dari pertanian seputar Jakarta sehingga total energi yang terbuang dalam mata rantainya tidak terlalu besar.  Bahan-bahan tersebut selanjutnya dimasak secara oleh Ibu Endang, beliau adalah pemilik Masakan Rumah Ibu Endang di Jalan Wijaya I/28 [note: meski sudah banyak reviewnya di JS, namun saya belum pernah makan disini, nanti kalau sudah berkesempatan mampir di restonya akan saya share juga].

Yang dihidangkan sebagai pembuka adalah sup merah, dengan P9050356 menu utama ayam bakar (+sambelnya yang enak), semur daging, lumpia basah, buncis tumis, kentang goreng, acar, dan rebusan wortel, buncis plus daun slada. Ada juga disediakan racikan teh khusus saat berbuka, yang dibuat dari berbagai jenis teh. Es (sejenis) cendolnya saya tidak sempat merasakan.

Saya bahas dua item yang menjadi favorit saya malam ini saja ya.

Sup merah mendapatkan namanya karena kuahnya kemerahan, dengan bahan dasar tomat, jadi sudah jelas rasa dasarnya P9050376 asam-asam tomat. Isi soup ada potongan-potongan sosis, ayam, wortel, pasta, bawang bombay (hm apalagi ya… lupa). Rasanya itu kok jadul banget, wah ini seperti jaman oma saya masak dulu deh kayaknya, pantes Bu Endang restonya namanya Masakan Rumah kayak dirumah (jaman dulu) saja. Saya dan beberapa orang nampaknya tidak cukup hanya semangkok atau dua mangkok sup ini.

Semur dagingnya kalau dilihat dari begitu terendamnya daging dalam kuah semur tidak terlalu menawan, tapi tidak banyak pilihan P9050364 saya ambil juga beberapa potong (kecil). Tapi memang penampilan kadang menipu kita. Begitu potongan daging masuk kedalam mulut, hm terasa lunak namun masih memiliki tekstur serat untuk digigit, sangat ideal bagi semur. Kuahnya terasa khas manis, asam, campur sedikit rempah (?), ah nikmat sekali … nah ini memang temannya kentang goreng, acar dan rebusan sayur-sayur. Tidak terasa beberapa kali kembali kemeja hidangan untuk tambah semur ini.

Seusai makan tibalah waktunya untuk berpisah dengan anak-anak penderita kanker dan orangtuanya, juga dengan teman-Kawan semejateman makan semeja lain yang baru berjumpa hari itu (yang ternyata masih lebih muda dari keponakan saya yang kebetulan teman salah seorang…huaduh jadilah saya dipanggil om sama mereka). Salam perpisahan disampaikan kepada semuanya.

Sebelum pulang sempat bincang-bincang dengan Lisa, meyatakan apresiasi atas idenya yang memungkinkan saya melihat sendiri semangat dan daya juang mereka para anak penderita kanker,Permainan melihat betapa banyak orang yang membantu melalui YOAI.. jadinya saya yang banyak belajar dari mereka.  Selanjutnya setelah agak sepi saya berpamitan dengan Ibu Retno, wakil ketua YOAI, yang setelah berbincang sedikit kata penutupnya yang diucapkan dengan sangat tulus adalah “Terima kasih. Belum pernah ada yang pernah melakukan acara seperti ini dengan kami..” Oh Tuhan, memdengar kata-kata seperti ini dari sang ibu, langsung trenyuh sekali hati ini rasanya … betapa hal sangat sederhana tanpa intensi karitatif apapun bisa berarti buat mereka … tak terasa setetes air mata mengalir turun dalam perjalanan saya menuju tempat parkir kendaraan.

REFLEKSI

Standar

2 thoughts on “Setetes Air Mata & Masakan Ibu Endang

  1. bodats berkata:

    Wah keren om! Penikmat kuliner ternyata bisa juga menghibur orang lain. Tentunya dengan cara yang khas, yaitu makan bersama dalam suasana yang ramah dan hangat.
    Salut deh!

    Salam kenal om, yang kemarin ikut bukber AHM di Sushi Tei.
    Kalo soal kuliner, masih harus banyak belajar nih. Hueheheh…
    Thanks atas sharingnya.

  2. Sebetulnya kita juga tak menduga event ini bro, bahkan lebih terkejut lagi bahwa hal sederhana seperti diatas bisa dengan sangat baik diterima oleh anak-2 dan orang tua penderita, juga YOAI.

    Terimakasih ya sudah berkunjung ….

Mari berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s