Perjalanan

Ada “Papaya, Mangga, Pisang, Jambu ….” di Shanghai

"Papaya, mangga, pisang, jambu …
datangnya dari Pasar Minggu ..
disana banyak penjualnya ..
dikota banyak pembelinya .
.. dst dst"

Ah ini lagu yang sangat familiar sejak kecil dan cukup "ngangeni" bagi kuping saya yang sudah seminggu ini mendengar bahasa indonesia hanya dari 2 orang dewasa dan satu infant, lha tapi kok kenceng banget ya yang nyanyi … eh eh eh ternyata itu lagu yang diputar CD yang dipakai latihan dansa oleh para lansia di Guanqi Park, Xujiahui. Berikut ini kisahnya ya ….

Sesudah seminggu jadi turis umum yang berwisatanya ke tempat-tempat ramai (Lujiazui, Zhujiajiao, Yu Garden & Yu Yuan, Tian Zi Fang dan Bund), maka semangat semakin membara untuk memulai fase jadi turis yang lebih seru lagi yaitu melakukan jalan kaki mengunjungi tujuan-tujuan menarik, kalau dibuku referensi dan di google maps sering dsebut dengan "walks" .. ya jalan-jalan. Ada beberapa buku yang cukup menarik sempat saya baca dalam seminggu ini, isinya sih sangat menarik, tetapi beberapa kok agak sulit mau menerapkannya … Semua buku yang berisi "walks" akan berkisah tentang latar belakang atau tema dari walks yang ada, latar belakang sejarah, geografis, arsitektur, dll yang menarik dan relevan akan apa yang akan kita jalani. Point of interest yang perlu disimak dan dicari. Juga bagaimana melakukannya: start dimana, berjalan kemana, perkiraan waktu tempuh, petunjuk jalan, istirahat (termasuk toilet yang baik – khusus untuk Shanghai ini penting), minum/makan dan berakhir dimana. Namun saya jatuh cinta sekali tiap membaca walks yang dikisahkan oleh buku ini: "The Streets of Changing Fortune – Six Shanghai Walks" oleh Barbara Green- Tess Johnston- Ruth Lear- Carolyn Robertson. Semuanya wanita, expat dan sudah tinggal beberapa tahun di Shanghai. Paling lama Tess Johnston yang sudah lebih 25 tahun. Mengapa? Justru karena bahasanya sangat sederhana, pedomannya praktis dan lugas, dan detail sekali.

Walk pertama yang saya lakukan judulnya "A meeting of minds: Academic and religious life in Xujiahui – (A rich and rather different history)". Nah untuk itu saya bangun jam 6 pagi, dan 6.30 berangkat meninggalkan Pudong ikut ipar saya ke kantor di Huaihai Lu. Disana sarapan dulu di Wagas, resto italy yang simple karena pangsa pasarnya adalah orang kantoran dan sudah buka jam 7 pagi.. hari ini saya pertama disana … pesan Panini (dengan telur orak-arik dan bacon) serta kopi total sebesar RMB 34 – ini harga sebelum jam 10pagi – selanjutnya menu lunch atau breakfast ini jadi lebih mahal lagi. Baca-baca lagi dan siapkan kartu metro pinjaman, ke toilet yang bagus digedung sana, dan karena santai-santai jam 8.15 baru turun ke stasiun metro untuk menuju stasiun Xujiahui yang 4 stasiun jauhnya menggunakan Line 1 dari stasiun Huangpi tempat mulai perjalanan.

Memasuki areal keberangkatan saya cek dulu saldo kartu Metro pinjaman, ada RMB59 (sebetulnya masih cukup buat beberapa hari), nah supaya gaya ya mau top-up lagi RMB50, he he malah jadi dibantuin sama orang dibelakang .. mungkin dia gemes kok ini lama banget sih memandang-mandang mesin sesudah masukin kartu.. he he ternyata mesin itu bisa pilih berbahasa inggris. Bahkan keluar data kartu ini habis dipakai kemana saja … oh iya kartu metro ini bisa untuk bis dan taksi juga lho … Masuk kedalam, cukup didekatkan saja kartu ini tidak perlu swipe .. langsung turun lagi keperon .. lihat peta dipintunya yang mana ke Xujiahui .. oh ternyata gampang sekali untuk tahu arah yang dituju … begitu metro datang langsung naik. Tak lama sudah sampai ditujuan, oh iya pengumuman stasiun berikut di metro dalam bahasa mandarin dan inggris, dan tulisan nama stasiun ada juga latinnya. Jadi asal jelas tujuan kita tidak akan kesasar. Oh iya, biayanya RMB3 saja …

Dari stasiun Xiajiahui seharusnya keluar di pintu exit 1 (dari 14 kalau tak salah) ke Guanqi Park di Nandan Lu, ternyata exit 1-4 sedang ditutup untuk perbaikan, harus lewat exit 5 .. haduh belum apa-apa sudah nggak urut nih … ternyata benar, setelah bertanya ke beberapa orang sambil tunjukkan tujuan dipeta akhirnya ada yang bisa bahasa inggris dengan baik dan menunjukkan arah untuk menyeberang ke Nandan Lu dari Caoxi Bei Lu.. Akhirnya on track juga deh..

Sampai dengan selamat di Guanqi Park, sebuah taman kecil yang sejarahnya agak berbeda .. karena disini dimakamkan Xu Guanqi (atau Paul Hsu) seorang terpelajar Cina yang bersahabat dengan seorang pastur Jesuit, Matteo Ricci di awal 1600-an; sehingga menjadi Katolik bersama seluruh keluarganya. Xu Guanqi sendiri sebagai seorang terpelajar memiliki minat dalam pertanian, ilmu perang, astronomi dan hal-hal ilmiah lain. Karyanya tentang pertanian menjadi buku referensi bagi banyak orang. Karena mendalami astronomi, dia juga mengamati kalendar dan melakukan usulan perubahan perhitungan kalendar Cina. Xu Guanqi meninggal tahun1633, dan mewariskan cukup banyak lahan yang dimilikinya kepada gereja Katolik. Peninggalan Xu Guanqi ini menjadi tema dalam walk ini …. Karena dia dimakamkan di lokasi Guanqi Park (sekarang ini), maka keturunannya banyak mendirikan rumah disekitar makamnya, sehingga wilayah sekitarnya diberi nama Xu Jia Hui … atau "Rumah Keluarga Xu". Sebetulnya kalau ke Xujiahui saat ini yang terbayang adalah mall-mall elektronik yang bertebaran disekitar stasiun ini….

Nah memasuki Guanqi Park dari arah stasiun Xujiahui, saat kita berada di gerbang sudah bisa melihat sebuah jembatan batu yang melintasi kolam, dan dibelakang jembatan berdiri sebuah gapura indah 4 tiang yang dari tengahnya terlihat sebuah salib putih besar. Dibelakang salib terdapat tiga gundukan tanah, dan inilah makam Xu Guanqi. Salib besar dipasang tahun 1933 pada peringatan 300 tahun meninggalnya beliau, dan daerah makam ini dijadikan Cultural Heritage sejak 1988. dan disediakan museum kecil untuk mempelajari sejarah dan karya beliau di taman ini.

Sambil berjalan ini nampak bahwa di Cina taman bukan sekedar hiasan, tetapi merupakan tempat berguna bagi penduduk disekitarnya. Cukup banyak lansia yang berlatih taichi, atau berolahraga lain (cukup banyak disediakan fasilitas olah raga di taman ini), juga ibu yang membawa bayi dan balita berjalan ditaman, bapak-bapak main kartu atau sekedar ngobrol… Dan yang jumlahnya besar adalah para lansia yang sedang berdansa-dansa, sangat senang mereka rupanya …. Yang juga menarik adalah bapak yang membuat kaligrafi di lantai batu dengan kuas besar menggunakan air sebagai tinta… wah-wah sangat filosofis ini (rupanya cukup banyak yang melakukan ini di banyak tempat).

Nah salah satu yang menarik perhatian adalah saat akan keluar dari Guanqi Park terdengar lagu Pepaya tersebut yang menghentikan langkah saya untuk menunggu mereka selesai, siapa tahu lagu Indonesia lagi yang diputar … he he mungkin ada yang dari Indonesia diantara para lansia itu? Sayang lagu selanjutnya adalah Banana Boat dari Belafonte … jadi deh saya melanjutkan walk pertama.. (di sambung dicerita lain ya sudah panjang nih….)

Standar

3 thoughts on “Ada “Papaya, Mangga, Pisang, Jambu ….” di Shanghai

  1. wah, kelihatannya disana tempat2 yg dikunjungi oleh Pak Iksa serba terawat dan rapih ya,
    kapan di negara kita ada tempat wisata serapi itu ?
    dimana2 banyak sampah bekas pengunjung.
    Salam.

  2. Wah menarik sekali. Saya sudah ke Beijing tapi saya tak sampai ketempat2 menarik lainnya,soalnya hanya 4 hari.
    Terima kasih atas reportasenya mas.
    Salam hangat dari Surabaya

Mari berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s