Kuliner, Perjalanan, Tenda/Warung

Mbah Mantono, Buruh Tani Pengepul Durian Brongkol Di Jambu – Semarang

Durian Brongkol

Saat musim durian maka tidak akan sulit kita menjumpai Mbah Mantono atau Mbah Manto ini. Cukup dengan mengunjungi lapak atau kios kecil tempatnya berjualan durian, musim ini berlokasi setelah kantor Desa Brongkol bila kita jalan dari Banyubiru menuju jalan raya Jambu (Semarang-Yogya). Tapi saat musim durian berlalu akan sulit kita menjumpainya, karena saat itu ia akan beralih profesi dari semula penjual durian menjadi buruh tani lagi.

Kios Mbah Mantono Kantor Desa Brongkol

Sebagai buruh tani Mbah Manto tidak punya tanah sendiri, ia hanya mengerjakan sawah dan ladang orang lain. Mengerjakan ini juga masih mengandung resiko karena sebagai pemaro belum tentu panennya sukses. Bila sedang apes malahan bisa mengalami tekor usahanya bertani musim itu.

Pilih Durian Gak Enak Saya Makan Sendiri

Sebagai penjual durian nampak kehidupannya lebih baik dan sederhana, namun bukannya tanpa resiko pula. Setiap hari Mbah Manto, istri dan anak-anaknya bergantian menjaga kios duriannya. Juga tidak lupa berkeliling ke pelosok-pelosok desa Brongkol dengan motor bebeknya. Dua keranjang buah siap terpasang untuk mengangkut durian (matang) yang diperolehnya hari itu. Tentu saja dia memiliki banyak pesaing, pedagang-pedagang durian lain yang bahkan berjualan di rumah-rumah besar.

@sidian imut-imut samping durian Aku kalah besar

Pengalaman membeli langsung ke kebun tetangga-tetangga desanya selama ini membawa Mbah Manto pada kemampuan menilai kemasakan dan enak-tidaknya durian dari pohon tertentu, dan tentunya harga wajarnya. Tantangan selanjutnya adalah menjual durian yang dibelinya tersebut. Tentu saja konsumen yang paling disukai adalah yang pembeli pemakan seperti saat kami berkenalan dengannya, marjin keuntungan terbesar ada pada konsumen jenis ini. Tapi pada hari biasa mungkin agak sulit untuk mengandalkan orang lewat pada jalan Brongkol yang relatif sepi itu dan begitu banyaknya penjual, untung saja kami masih tipe tradisional yang karena saat pergi beli di Mbah Manto tidak kecewa, maka saat pulang juga mampir lagi setelah minum kopi di Banaran. Makanya senyum Mbah Manto makin besar saat kami mampir kedua kalinya.

@riep_riep dan durian senyum Mbah Manto

Kemampuan memilih buah yang baik itu penting, karena penawaran harga kepada konsumen itu adalah berdasarkan jenis/besaran durian dan rasa dan tekstur yang tepat. Baik itu manis, pahit, empuk, kering; semua harus dikuasai dan dihafal durian mana yang punya karakter tersebut. Bila durian yang dibuka tidak sesuai maka seperti kata Mbah Manto kepada kami “Terpaksa saya makan sendiri kalau tidak cocok”. Untunglah sebagian besar yang dipilihnya untuk kami tergolong enak, bahkan tiap yang dibuka lebih enak dari sebelumnya, klimaks yang baik.

Durian untuk eskrim Ehem-ehem

Konsumen lainnya yang sempat kami lihat adalah pemborong buah-buah durian afkir atau yang ditolak konsumen. Nah jenis ini membeli buah dengan harga yang relatif sangat murah. Karena yang dibeli borongan semua yang afkir dan ditolak konsumen. Jadi bisa belasan atau puluhan durian dibelinya sekaligus, bandingkan dengan yang makan di tempat paling hanya empat atau lima buah, sesuai jumlah orang. Pembelian juga dilakukan pada banyak penjual, dengan mobil angkutan yang dengan sendirinya penuh durian.

Masih menjual

Mbah Manto sendiri menyikapi hidup dengan tawa dan senyuman, tidak dengan keluh kesah. Saat kami disana ada petugas yang mengumpulkan tabungan desa, Mbah Manto bisa menyetor Rp 100 ribu sehari saat musim durian. Katanya sih musim durian bisa berlangsung antara 3-4 bulan. Konon saat menjadi buruh tani paling dia menabung seribu rupiah saja seharinya.

Mau kemana Mbah?

Hanya ini sedikit kisah pertemuan dengan Mbah Mantono, buruh tani yang berani berjualan durian, dan tak punya lahan sedikitpun sampai saat ini…  Salam durian!!

Pengeringan Kulit Durian

[Kulit durian yang menjadi limbah disana dijemur dan dikeringkan di tepi jalan, menurut Mbah Manto akan digunakan sebagai bahan bakar melengkapi kayu bakar …. Wah jangan-jangan masih ada aroma durian yang terbawa tuh dalam masakannya.]

Standar

3 thoughts on “Mbah Mantono, Buruh Tani Pengepul Durian Brongkol Di Jambu – Semarang

Mari berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s