Mobile, Perjalanan

Api, Pusat Kehidupan … Catatan Dari Kaki Semeru (Hari Kedua Catatan Ketiga)

Dingin, sangat dingin, amat sangat dingin. Inillah kesan pertama saat mulai menjalani malam di Ranu Pane.

Sebagai desa pemukiman di lembah kaki Semeru, penduduk Ranu Pane diberkati oleh adanya dua danau sumber air. Ranu Pane dan Ranu Regulo. Ditambah dengan tanah berkandungan debu vulkanik maka lengkaplah sebagai desa pertanian. Inilah sumber kehidupan bagi penduduk Ranu Pane, orang Tengger. [Tengger dibaca dengan e seperti pada kata “telur”, kalau e seperti “lele” itu bertengger]

Konon pada musim kemarau, saat dingin mencapai puncaknya. Lembah di kaki Semeru ini akan sangat dingin. Pada pagi hari umum dijumpai butir-butir air yang kedinginan dan membeku. Baik itu di padang rumput, ladang, hutan maupun di halaman rumah. Saat pagi nan putih menyapa semua yang berada disana menyaksikan pagi.

Kami yang berada di Ranu Pane saat pergantian musim inipun suddah cukup kedinginan. Maklum anak kota metropolitan tepi pantai, yang terbiasa dengan panasnya ibukota.

Panas menjadi suatu kemewahan disini, apalagi dalam jangka waktu lama. Sumber panas yang tetap dalam rumah umum didapati pada dapur, dimana nasi ditanak, air dijerang dan lauk dimasak.

Dapur dalam keadaan ini menjadi pusat kegiatan dalam rumah. Dengan tungku yang menjadi titik utama. Ada tungku tanah, tungku batu, semen, porselen, bahkan yang berlapis kayu.

Seluruh keluarga saat di rumah akan menghabiskan waktu seputar tungku, mencari kehangatan dan memberi kehangatan. Ya disanalah aneka berita tersebar, aneka cerita dikisahkan, komunikasi dan tutur sapa. Bahasa tubuh dan hati lebih penting dari lisan. Kehangatan yang dipancarkan dari dan bagi sesama inilah yang menjadi penyegar jiwa, membentuk masyarakat Tengger yang ramah dan tulus.

Seluruh penghuni, keluarga, tamu; tua-muda, besar kecil; akan berada bersama di seputar tungku. [Bahkan kucing kecil peliharaan keluarga Tomari suka bercengkerama di perapian tungku ini] .. Makan, minum, bercengkerama bersama; merayakan kehidupan. Itulah pusat kehidupan dalam masyarakat desa Ranu Pane.

Api pusat kehidupan …

[Walau kehangatan pembicaraan nan akrab seputar tungku terus berlangsung, kami harus kembali ke kamar untuk tidur dan berkarib dengan dinginnya malam. Esok perjalanan baru menanti.]

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Standar

11 thoughts on “Api, Pusat Kehidupan … Catatan Dari Kaki Semeru (Hari Kedua Catatan Ketiga)

    • Iya Bro Alfi, itu imut kucingnya .. Dielus-elus nurut aja, malahan ngikutin ..

      Nginepnya di rumah penduduk, alias homestay gitu .. Gak ada pilihan lain kecuali mau pasang tenda

  1. Tikapinkhana berkata:

    Wah ada anak kucing, ko kurus banget :D?enak juga yah kalau cuacanya dingin apalagi kalau sambil makan mie atau bakso kuah yang hangat

  2. Ping-balik: Rawon Tengger Di Ngadisari: Catatan Ketiga Hari Ketiga | Makan Lagi - Lagi Makan

  3. Ping-balik: Sup Asparagus Di Cafe Lava Enak Sekali! – Catatan Kelima Hari Ketiga | Makan Lagi - Lagi Makan

  4. Ping-balik: Pawon: Membuat Gula Merah, Merebus Nira | Makan Lagi - Lagi Makan

Mari berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s