Mobile, Perjalanan

Bukit Penanjakan: Catatan Kedua Hari Ketiga

Dingin menusuk tulang saat jip selesai parkir dan kami harus turun. Ramai sudah lokasi parkir dan kios-kios ini, banyak juga yang kelihatan mengisi perut atau sekedar berhangat-hangat.

Kami segera menurunkan peralatan memotret, dan menuju ke atas. Wah ternyata banyak juga anak tangga yang masih harus ditempuh. Ah ah hayo naik, segera, secepatnya naik. Dalam dingin, napas pendek, kami menapaki tangga satu persatu. Akhirnya sampai juga di pelataran Pos Bukit Penanjakan. Pelataran ini konon tempat yang indah untuk memandang terbitnya matahari dan melihat Bromo, Batok dan Semeru dipagi hari.

Tugas selanjutnya adalah mencari lokasi yang baik untuk memotret nanti saat pagi hari. Dan pilihan harus segera dibuat, memotret matahari terbit atau memotret Bromo Batok dan Semeru ..

Ternyata mencari tempat yang pas ini tidak mudah, karena:
– demi keamanan pengunjung semua diberi tiang dan pembatas besi yang besar. Bahkan ada yang masih ditambahkan besi model pagar halaman.
– demi estetika dan penghijauan ditanam semak dan pohon yang malahan menghalangi pemandangan.
Akibatnya tempat menaruh tripod untuk memotret sangat terbatas. Apalagi yang datang terlambat wah berdiripun sulit.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Untung kami cukup pagi, dan masih sempat memilih lokasi yang cukup baik. Diputuskan berempat mengambil foto dengan arah ke Bromo, Batol dan Semeru, tidak ada yg ke arah matahari terbit.

Dingin saat menanti makin terasa, untung ada yang menyewakan jaket tebal, maka saya sewa tambahan jaket untuk menambah ketebalan pakaian (yang sudah tiga lapis ini). Lumayan tenang sih setelah adanya tambahan jaket ini.

@aksept in action

@aksept in action

Saat matahari di timur mulai merona jingga, kamipun mulai mengabadikan perubahan-perubahan yang nampak. Perlahan tapi pasti matahari semakin meninggi, menerangi alam sekitar Bromo. Kemudian kali ini, naiknya mentari diikuti dengan kabut yang menyelimuti permukaan lautan pasir dan padang rumpur Bromo.

Bromo Batok Semeru

Wah ini salah satu keindahan yang tak selalu dapat dinikmati semua orang. Kamipun terus mengabadikan berbagai perubahan yang terjadi ini. Sementara pengunjung-pengunjung lain satu demi satu rombongan mulai meninggalkan lokasi. Ah sayang sekali bagi mereka, karena justru saat-saat setelah terbitnya matahari ini keindahan alam semakin nyata.

Menara

Setelah matahari beranjak tinggi, kabut menetap dan tak banyak lagi perubahan. Kami menyelesaikan potret-memotret, dan sedikit narsisan. Kemudian bersiap-siap turun, menapaki anak-anak tangga ke lokasi parkir jip.

Gerbang atas Tangga

Sebagaimana perjalanan menuruni bukit lainnya, kali ini juga suasana lebih terasa seram dibanding saat naik. Karena sudah terang, nampak nyata sekali tikungan tajam, jalan terjal dan jurang-jurang sepanjang jalan.

Dalam Jip Bromo Pasir Bromo Pasir Rumput

Sampai di bawah, kembali kami melintasi lautan pasir yang tetap mendebarkan karena tebalnya kabut. Konon dengan jarak pandang masih beberapa puluh meter belumlah terlalu tebal sang kabut kali ini, karena saat tebal-tebalnya jarang pandang hanya 2-3 meter saja. Alias harus sangat hati-hati di jalan.

Bromo Kuda Bromo Kuda-Kuda Bromo Jip dan Kuda

Saat melintas di bawah Kawah Bromo nampak begitu banyaknya jip diparkir disana, oh rupanya ini yang dituju rombongan lain saat cepat-cepat meninggalkan Bukit Penanjakan. Kami hanya melintasi saja parkirnya rombongan jip dan kuda-kuda ini, karena akan segera ke Cemoro Lawang untuk mengisi perut dan mengarah ke tujuan berikut.

Cemoro Lawang

Bromo memang indah …

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Standar

9 thoughts on “Bukit Penanjakan: Catatan Kedua Hari Ketiga

  1. Liza Suryatenggara berkata:

    Ikssaa. fotonya bagus n menarik!! Aku n family ke sana September lalu, itupun tanpa rencana. Kita naik mobil 10 jam dari Semarang, krn kata sopir teman deket.. waduh ternyata pegal juga. Naik ke Bromo pake jip n naik kuda, kita sudah siap2 pake matel, ternyata tidak dingin. Apa kita yang sudah biasa dengan dingin atau memang tidak dingin? Krn sudah berumur, naik tangga yg tidak begitu banyak harus berhenti2 beberapa kali, karena kehabisan nafas. Krn perjalanan perginya panjang, kita putuskan dari Surabaya kita pulang naik pesawat saja, krn buang waktu kalau jalan darat. Anyhow, Bromo is one of our good memory in Indonesia, especially for Kathleen yg waktu itu sakit, jadi pas naik ke kawah dia digendong abang2. Antara takut tapi juga mau.. hi hi hi..

    • Wah lumayan juga sih Cil kalau naik mobil dari Semarang cukup pegel juga …

      Iya soal dingin kan sudah biasa disana, beda sama badan Jakarta ini … Iya soal naik itu nanti ada ceritanya, eh malah udah ditulis di blog bhs inggris .. He he he ..

  2. Ping-balik: Rawon Tengger Di Ngadisari: Catatan Ketiga Hari Ketiga | Makan Lagi - Lagi Makan

  3. Ping-balik: Madakaripura: Catatan Keempat Hari Ketiga | Makan Lagi - Lagi Makan

  4. Ping-balik: Memotret Sunrise Di Bukit Penanjakan | Inilah Aku

  5. Ping-balik: Bromo Jeep Club | Inilah Aku

  6. Ping-balik: Menyongsong Matahari Terbit Di Bromo – Catatan Kesatu Hari Keempat | Makan Lagi - Lagi Makan

Mari berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s