Perjalanan

Madakaripura: Catatan Keempat Hari Ketiga

Gajah Mada

Air terjun Madakaripura adalah tujuan berikut perjalanan kami hari ini setelah sunrise di Bukit Penanjakan. Konon di lokasi air terjun yang berada di kaki pegunungan Tengger ini, Sang Mahapatih Gajahmada melewatkan hari tuanya dalam pertapaan. Ada yang percaya dia moksa, tapi ada juga yang bilang makamnya ada disini.

Desa Sapih, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo terletak lumayan jauh ke bawah kawasan Bromo. Bahkan sebetulnya relatif lebih dekat dengan kota Probolinggo. Jip kami menempuh perjalanan kesini dengan lancar.  Yang menarik setelah berbelok di pertigaan Tongas menuju ke arah Madakaripura, sepanjang jalan masih dipenuhi oleh hutan randu. Dan tanaman randu ini menjadi sumber penghasil madu randu dari lebah-lebah yang diternak masyarakat setempat. Sayang saya tidak melihat adanya pengolah madu yang khusus di sepanjang jalan ini. Mungkin semua masih dalam skala usaha rakyat.

Parkir Madakaripura

Sampai di lokasi parkir mobil, kami berganti celana pendek dan mempersiapkan diri untuk basah terkena air terjun dengan membawa jas hujan. Juga sepatu dilepas dan menggunakan sandal. Kamera juga sebaiknya diberikan perlindungan terhadap air.

Dari lokasi parkir ini kami mengambil seorang pemandu yang berfungsi sebagai porter juga. Ia memudahkan kita untuk mencapai lokasi dengan cepat dan aman karena sudah hafal harus lewat mana di perjalanan.

Pemandu

Sebetulnya sudah dipersiapkan jalur semen menuju ke lokasi air terjun menyusuri sungai yang mengalir disana. Tetapi karena di beberapa titik jalurnya kena longsor, maka kami harus beberapa kali turun ke air menyeberangi sungai untuk berjalan disisi yang lain. Selanjutnya menyeberang lagi kembali ke jalur semen. Untung ada pemandu kami.

Bromo -8039

Pemandangan selama berada di tepian sungai sangat indah, dimana kita berada diantara tebing-tebing yang sangat tinggi dan sangat hijau oleh aneka tumbuhan. Sesekali terdengar kicau burung bersahutan. Ah.. Nyaman sekali.

Bromo -8019

Saat menjelang sampai di air terjun, hujan yang semula hanya rintik menjadi makin deras. Untungnya ada tempat perhentian berupa warung yang menjual makanan dan minuman, disini kami memesan aneka minuman panas dan makan pisang goreng yang baru saja diangkat dari penggorengan.

Parkiran di kejauhan Madakaripura sepanjang sungai

Kekhawatiran bila hujan tidak kunjung reda, apalagi bila malah hujan deras di daerah atas air terjun adalah terjadinya banjir yang bisa membahayakan. Namun saat hujan mulai reda kami pun bersiap untuk melanjutkan perjalanan.

Sungainya Tebingnya Sungai lagi

Saat meninggalkan warung ada bapak yang menyediakan jasa penyewaan jas hujan dan payung. Karena jas hujan yang saya bawa tidak memakai penutup kepala, maka saya menyewa payung disini.

Ada air mengalir Turun

Setelah jalur semen habis dan saatnya memasuki sungai menjelang air terjun, dari kejauhan mulai terlihat satu persatu dari tujuh air terjun yang ada. Ternyata memang perlintasan kita melalui tetesan-tetesan air terjun, sehingga pasti akan basah kuyup bila tidak menggunakan jaket atau payung.

warung Bu Darsono Sewa Payung

Memang suatu pemandangan yang indah melihat air turun dari ketinggian yang konon sampai 200 meter, sampai di bawah banyak yang sudah berupa butiran-butiran. Apalagi pada air terjun utama yang berasal dari ketinggian dan tercurah sampai ke dasarnya. Wah memang unik air terjun ini. Saking dekatnya lokasi air terjun, dan percikan2nya, kami tidak cukup siap untuk memotret karena sayang kamera dan agak bingung kurang persiapan. Ha ha ha.

Madakaripura Air terjun utama Dari kejauhan

Meskipun demikian memotret seadanya tetaplah kami lakukan, dengan harap-harap cemas berharap bahwa kamera benar-benar kedap terhadap air yang menetes dari atas.

Air menetes Ray Of Light

Saat berjalan melintasi air terjun ini cuaca cerah, pemandu mengingatkan saya untuk melihat disekitar batu2 yang ada, ternyata banyak pelangi-pelangi kecil disekitar. Kombinasi dari tetesan air yang banyak dan sinar cuaca cerah. Sayang pelangi-pelangi kecil ini tak diabadikan dalam kamera, cukuplah ia jadi kenangan indah. Pelangi di hati.

Air jatuh

Pulangnya kami singgah di warung lagi, minum panas dan makan pisang goreng. Selanjutnya perjalanan ke parkiran juga lancar. Dan kembalilah saya dan Mas Patel ke Bromo siang itu.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Standar

7 thoughts on “Madakaripura: Catatan Keempat Hari Ketiga

    • Sama-sama terima kasih ..

      Saya selalu minta duduk di sebelah jendela kalau dibolehkan .. Supaya bisa lihat-lihat dan foto-foto ..

  1. Ping-balik: Sup Asparagus Di Cafe Lava Enak Sekali! – Catatan Kelima Hari Ketiga | Makan Lagi - Lagi Makan

Mari berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s