Perjalanan

Menyongsong Matahari Terbit Di Bromo – Catatan Kesatu Hari Keempat

Bromo pagi

Hari masih gelap, pagi masih dingin saat terdengar mesin jip berhenti di depan kamar dan tak lama kemudian Mas Patel  mengetuk pintu kamar. Wah untung sudah berkemas sejak semalam, jadi tinggal sikat gigi ambil barang, pakai scarf dan berangkat.

Bromo Savanna-8159

Sesuai janji kemarin, pagi ini Mas Patel akan mengantar saya ke Bromo. Kali ini saya bermaksud menyaksikan terbitnya matahari dari puncak Bromo. Sekedar penasaran saja, ingin melihat sesuatu yang berbeda dengan pemandangan dari Bukit Penanjakan kemarin pagi.

Bromo Savanna-8170

Kembali jip turun dari pos Cemoro Lawang, menuju lautan pasir, ditengah-tengah kegelapan dan kabut tipis. Sampai lokasi parkir kendaraan, lho kok masih sepi banget .. Tidak ada satupun kendaraan jip lain disekitar, ha ha pasti semua masih di Bukit Penanjakan ya … Masalah utamanya tidak ketemu dengan yang paling dicari, ya tidak ada kuda sewa untuk ditunggang yang terlihat (pas di jalan menuju sih ada beberapa ekor kuda masih dalam perjalanan, tapi itu kan jauh di belakang tadi …).

Bromo Savanna-8175

Bukan Mas Patel namanya kalau diam-diam saja pada kondisi begini. “Kalau siang jip kita cuma boleh sampai disini saja, tapi ini masih pagi saya antar ke tempat parkir motor di dalam sana, pasti ada kuda” dan … masuklah dia menerobos ke lokasi yang kalau siang hari terlarang untuk jip. Melewati pura dan masuk ke sisi tempat parkir motor, lumayan jauh juga kalau harus jala sendirian dalam gelap. Tetap tidak terlihat ada kuda sewa. Mulai lah dia berteriak ” Jaran …. Jaaaraaan …. Jarannnnn!” .. Wah ampuh juga teriakannya, tidak lama kemudian datanglah seekor kuda dituntun oleh pemiliknya; sakti juga teriakan Mas Patel.

Bromo Savanna-8177

Setelah jelas soal tarif naik kuda sampai kembali ke parkiran mobil nantinya, mulai proses yang sudah lama tidak dilakukan.  Ya naik kuda untuk badan sebesar saya sekarang perlu upaya khusus, alias bala bantuan untuk bisa naik pertama kalinya. Sesudah naik ke atas kuda dengan susah payah. Mulailah si kuda kecil membawa saya yang besar ini menaiki jalan setapak menuju Bromo.

Bromo Savanna-8188

Dalam perjalanan naik mulai tersusul beberapa kelompok anak-anak muda yang dengan semangat berjalan kaki naik, memang tidak murah juga sih sewa kuda ini, dan kalau waktunya cukup mungkin lebih cocok mendaki saja perlahan-lahan. Tapi ya memang enak juga naik kuda ini, cepat sekali, tidak terasa sudah sampai di ketinggian dan batas akhir pendakian kuda. Selanjutnya harus dilakukan dengan berjalan kaki ke puncaknya.

Bromo Savanna-8201

Mulai menapaklah saya menyusuri jalan pasir sedikit, menuju ke tangga yang akan menghantar ke puncak Bromo. Lho tapi kok makin lama makin sesak ini nafas, wah rupanya oksigen cukup tipis dipagi hari ini, nafas harus lebih cepat. Tapi, ada lagi rupanya, ternyata semakin lama semakin tercium bau belerang oleh hidung, dan ini memberi perasaan semacam tercekik di leher, haduh kok jadi makin sulit mau naik. Baru beberapa anak tangga sudah makin pusing dan lemah rasanya, wah tidak bawa oksigen portabel nih….

Bromo Savanna-8220

Akhirnya, karena saat diintip ke arah matahari yang mulai merona jingga di timur sana, wah ini gejala akan mulai terbit dalam hitungan belasan menit saja si bulatan kuning …. saya harus putuskan, mau naik terus dengan resiko entah kapan sampainya, atau kembali ke bawah tangga dan cari tanah yang cukup datar untuk memotret. Ah, dari pada sama sekali tidak bisa menyaksikan dan mengabadikan terbitnya matahari, lebih baik saya   cukupkan pendakian dan memotret langsung di lokasi sini saja.

Bromo Savanna-8221

Bromo Savanna-8222

Segera setelah memasang tripod dan menyetel kamera memang mulai muncul sedikit demi sedikit sang mentari di ufuk timur. ah seandainya saja saya masih terus naik, mungkin tidak kebagian menyaksikan terbitnya matahari ini … Keputusan yang tepat pada waktu ini, kapan-kapan nanti mendaki Bromo lagi dengan persiapan yang lebih baik.

Bromo Savanna-8226 Bromo Savanna-8234

Saat matahari sudah tinggi, saya segera pindah lokasi memotret, dekat dengan penjual kopi … Jadi bisa memotret sambil minum kopi .. ha ha ha enaknya jadi turis .. Saat makin terang, saya sudahi pemotretan dan memanggil kuda sewa saya, si Legi .. eh maksudnya memanggil pemilik si Legi agar mengantar saya turun ke tempat parkir jip dimana Patel sudah menanti pastinya.  Saat ini sudah banyak jip dari Bukit Penanjakan yang tiba, dan kuda cukup laris ….

Bromo Savanna-8260

Siaplah saya menuju savanna ….

Standar

4 thoughts on “Menyongsong Matahari Terbit Di Bromo – Catatan Kesatu Hari Keempat

  1. Ping-balik: Kuda Sumbawa Di Bromo – Catatan Kedua Hari Keempat | Makan Lagi - Lagi Makan

  2. Ping-balik: Savanna Bromo – A Tribute To @riomenajang : Catatan Ketiga Hari Keempat | Makan Lagi - Lagi Makan

Mari berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s