Tenda/Warung

Mie Ayam Timur – Kisah Cinta Suami Istri

“Mie ayam ini masakan orang Timur. Bukan sekedar Jawa Timur, tapi dari NTT, Kupang. Kampungnya 140 km dari kota, sudah dekat perbatasan.” Ini sedikit rangkuman penjelasan Pak Rantam si penjaja Mie Ayam Timur yang saya santap. “Semua ini istri saya yang persiapkan dan masak. Saya tinggal ambil dan berjualan disini. Istri saya asli dari Timur”, tutur Pak Rantam lebih lanjut.

Terus terang ketertarikan saya mencoba mie ayam di pojokan Wolter Mongonsidi dan Ciragil ini adalah papan bertuliskan Mie Ayam Timur ini. Secara rasa sama juga dengan mie ayam langganan di pojok Mega Kuningan seberang Mall Ambassador. Namun banyak kisah membanggakan dibalik sekedar mie ayam.

“Saya sendiri berasal dari Gunung Kidul, Jogja” tutur Pak Rantam yang penuh percaya diri dan senyuman. “Sudah 24 tahun saya bekerja di Pak Sadi. Sejak baru buka disini” lanjutnya sambil menunjukan kaos seragam kerja yang dikenakannya. “Saya bekerja di belakang, bagian dapur. Tapi hanya shift pagi saja, sore saya pulang. Ambil gerobak dorong ini, yang semuanya sudah disiapkan istri saya. Tinggal jualan saja,” jelasnya lebih lanjut. “Saya sudah ijin Pak Sadi untuk masuk pagi saja karena sore dan malam jualan disini” tambah Pak Rantam. Menurutnya pula, “disini aman, tidak ada preman yang malakin. Lagian saya kan sudah lama disini, semua teman”.

“Apa tabungan hasil kerja dan jualan di belikan lahan dan sapi di Kupang?” Tanya saya pada Pak Rantam karena sempat dia berkata mau pulang kampung disana suatu saat. “Wah kalau sapi saya beli dan pelihara di Jogja – Gunung Kidul. Disana sapinya besar-besar. Saya punya lima limusin. Kalau di Kupang sapinya kecil-kecil. Kelihatan gemuk, tapi kecil” jawab Pak Rantam. “Kalau di Kupang lahannya batu bukan tanah. Lapisan atasnya cuma tipis. Tapi pohon-pohon besar juga tumbuh. Pohon kemiri dan kelapa ada banyak di tanah kami, besar-besar. Sayang kelapanya tidak bisa dimanfaatkan, jadi sampai jatuh dan tumbuh lagi buahnya” lanjutnya pula. “Soalnya jalanan ke desa kami masih jelek sekali, jadi tidak bisa bawa hasil bumi ke kota”.

Ini sekilas pembicaraan dengan Pak Rantam, orang Jogja yang beristri orang “Kupang”. Pekerja dan pedagang makanan, tekun dan rajin. Sangat bangga dia akan istri yang telah memberinya dua anak, nyata binar-binar cinta dari matanya saat berbicara. Luar biasa Pak Rantam, semoga Mie Ayam Timur berkembang dan memberi kehidupan yang cukup buat berdua istri kembali jadi petani/peternak di Kupang nanti.

20131204-022038.jpg

20131204-022104.jpg

20131204-022117.jpg

20131204-022051.jpg

Standar

7 thoughts on “Mie Ayam Timur – Kisah Cinta Suami Istri

  1. manuwoto berkata:

    …how sweet…love and happiness are belong to everybody regardless of social and economic status
    Iksa, request for reposting

Mari berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s