Kecil/Cemilan, Perjalanan

Mencicipi Manggis Mengkel Akibat Longsor Di Lembah Anai

20140106-215213.jpg

Longsornya jalan di Lembah Anai menuju Padang-Panjang mengakibatkan kemacetan luar biasa saat menuju Bukittinggi. Sudah lebih 3 jam belum kelihatan ujungnya. Padahal saat mendarat di Minangkabau International Airport pagi hari sengaja rombongan tidak bersantap dulu, namun akan makan di Padang Panjang.

Untung saat melewati daerah Sicincin kami sempat singgah sebentar membeli manggis di pinggir jalan, dan tidak tanggung jumlahnya 10 kg, sekitar 1 kg untuk tiap orang. Harganya tanpa ditawar hanya Rp 10 ribu per kg. Manggis-manggis inilah yang menjadi pelipur lara pada saat lapar mendera di tengah kemacetan. Lumayanlah ada isi perut sedikit, manggis yang enak dari Sicincin.

Cukup lama dan berkelanjutan macetnya, sehingga perut makin lapar. Tapi memang tidak ada tempat buat bersantap.

Sampai cukup jauh seputar Lembah Anai ada beberapa ibu-ibu dengan membawa baskom di kepala. Wah aneka jajanan nih! Maka kami panggil salah seorang yang terdekat.

Wah ternyata santapan unik yang dibawanya, ya beliau menjual sate manggis. Alias manggis mengkel yang sudah dikupas dan ditusuk dengan tusukan sate. Ada 3 manggis pertusuk. Harga per tusuk Rp 5 ribu. Kelihatan cukup mahal dibandingkan manggis matang segar yang barusan kami makan sepanjang macet.

Seorang teman mengingatkan, jangan lihat harganya. Coba bayangkan perjuangannya mengupas manggis mengkel sebanyak itu, dan yang utama rasakan dulu!

Point pertama rasanya benar sekali. Coba saja mengupas manggis mengkel kalau tidak percaya. Dijamin tidak mudah. Meskipun lama-lama pasti terbiasa.

Point kedua, soal rasanya sulit juga mendeskripsikannya tapi kurang lebih begini: aroma, seperti manggis matang tidak ada aroma tajan dari buah kupas ini; tekstur, secara keseluruhan renyah, jadi kita seperti menggigit jambu biji atau buah pir mengkal, sama sekali jauh dari lembutnya manggis matang; rasa, semula diduga sangat asam, ternyata malah sama sekali tidak asam, lamat-lamat manis dan segar di mulut. Tak terasa satu tusuk habis dan lanjut tusuk kedua. Jelas keunikan ini sesuai dengan selera.

Saat macet masih lanjut terus meski perlahan mulai gerak, rasanya ingin membeli lagi tapi tidak terlihat penjualnya. Juga saat kembali ke Padang, tidak macet lagi jalanan, dan upaya mencari penjaja manggis mengkel gagal.

Ahh. Semoga lain kali masih berkesempatan mendapatkan buah manggis mengkel yang enak ini.

Lihat juga:

20140106-215131.jpg

20140106-215056.jpg

20140106-215014.jpg

20140106-214924.jpg

20140106-214805.jpg

Standar

2 thoughts on “Mencicipi Manggis Mengkel Akibat Longsor Di Lembah Anai

Mari berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s