Fotografi Makanan, Kecil/Cemilan, Oleh-Oleh

Buah Kurma (Muda) Segar


Buah kurma dapat kita jumpai di Tanah Air sepanjang tahun, cuma biasanya berupa buah yang sudah dikeringkan dan dimaniskan. Maklum, karena kurma bukan buah yang dihasilkan lokal disini tapi berasal dari Timur Tengah. 

Saya sendiri selama ini penasaran dengan tampilan asli buah kurma ini, soalnya belum pernah ketemu sekalipun. Nah nasib baik kali ini pas jalan di salah satu supermarket dekat rumah rupanya ada persediaan kurma (muda) segar. Tampilannya yang bergerumbul kemerahan sangat mengundang selera. Jadi sempat beli satu kemasan dengan harga sekitar 120 ribuan rupiah, sekilo dijual 275 ribu rupiah. Cukuplah untuk menghilangkan rasa penasaran. Sampai di rumah dihitung ada 30 buah kurma dalam kemasan itu, jadi sekitar 4 ribu rupiah sebijinya tuh si kurma segar ini. 


Puas dilihat, berikutnya adalah mencoba memakannya. Nah kurma muda segar ini tampilan kulitnya halus dan kencang, belum kisut. Warna merahnya pun nampak segar. Buahnya tidak lembek saat ditekan, jadi cukup keras. 

Saat akan dilepas dari tangkai masih lumayan sulit, khas buah masih muda. Karena masih penasaran dan untuk difoto maka kurma dibuka dengan pisau, diiris dan dibelah dua dengan biji utuh. Nampak isi buah berwarna putih segar, dan biji yang sama dengan kurma manisan. Sayang lama dibiarkan dia agak menguning difoto. 


Sesudah terbelah dan difoto mulai proses mengicip. Kerenyahan kurma muda ini sangatlah terasa saat digigit, krenyes krenyes. Rasa awal yang diperoleh, sepat, ya maklum namanya juga masih muda. Tapi tak lama sesudah itu manis dan semakin manis serta segar dari air buahnya. Oooh pantas saja buah kurma itu identik dengan manis dan segar!


Ini tampilan biji kurma setelah kulit dan daging buahnya disantap. Sekian catatan mencicipi buah kurma (muda) segar versi warna merah, katanya ada warna kuning tapi tidak ada ditokonya. 

Iklan
Standar
Food Court, Kecil/Cemilan

Kuliner Pasar Santa: Es Cendol Duren

IMG_1746.JPG

Pada dasarnya disediakan dua jenis es oleh kedai ini, Es Cendol dan Es Duren. Keduanya dengan varian-varian masing-masing. Tetapi tersedia juga Es Duren Cendol bagi yang ingin menikmati keduanya sekaligus. Atau bagi yang ingin merasakan semua varian sekaligus ada juga es duren campur.

IMG_1744.JPG

Sesuai dengan namanya maka Es Duren Cendol ini basisnya adalah es duren dan diberi tambahan cendol di dalamnya. Es durennya sendiri sudah enak, dengan rasa duren yang merangsang lidah untuk mencecap lebih banyak lagi. Bagian cendolnya sendiri terasa hanya sebagai pelengkap disini, pelengkap yang enak.

IMG_1745.JPG

Konon kedai es ini adalah bagian dari Bebek Ginyo dari Tebet, sebuah kedai makan yang cukup ramai dilokasinya sana.

IMG_1743.JPG

Oh iya, saat ini mereka hanya buka hari Kamis sampai Minggu saja.

Standar
Kecil/Cemilan, Perjalanan

Mencicipi Manggis Mengkel Akibat Longsor Di Lembah Anai

20140106-215213.jpg

Longsornya jalan di Lembah Anai menuju Padang-Panjang mengakibatkan kemacetan luar biasa saat menuju Bukittinggi. Sudah lebih 3 jam belum kelihatan ujungnya. Padahal saat mendarat di Minangkabau International Airport pagi hari sengaja rombongan tidak bersantap dulu, namun akan makan di Padang Panjang.

Untung saat melewati daerah Sicincin kami sempat singgah sebentar membeli manggis di pinggir jalan, dan tidak tanggung jumlahnya 10 kg, sekitar 1 kg untuk tiap orang. Harganya tanpa ditawar hanya Rp 10 ribu per kg. Manggis-manggis inilah yang menjadi pelipur lara pada saat lapar mendera di tengah kemacetan. Lumayanlah ada isi perut sedikit, manggis yang enak dari Sicincin.

Cukup lama dan berkelanjutan macetnya, sehingga perut makin lapar. Tapi memang tidak ada tempat buat bersantap.

Sampai cukup jauh seputar Lembah Anai ada beberapa ibu-ibu dengan membawa baskom di kepala. Wah aneka jajanan nih! Maka kami panggil salah seorang yang terdekat.

Wah ternyata santapan unik yang dibawanya, ya beliau menjual sate manggis. Alias manggis mengkel yang sudah dikupas dan ditusuk dengan tusukan sate. Ada 3 manggis pertusuk. Harga per tusuk Rp 5 ribu. Kelihatan cukup mahal dibandingkan manggis matang segar yang barusan kami makan sepanjang macet.

Seorang teman mengingatkan, jangan lihat harganya. Coba bayangkan perjuangannya mengupas manggis mengkel sebanyak itu, dan yang utama rasakan dulu!

Point pertama rasanya benar sekali. Coba saja mengupas manggis mengkel kalau tidak percaya. Dijamin tidak mudah. Meskipun lama-lama pasti terbiasa.

Point kedua, soal rasanya sulit juga mendeskripsikannya tapi kurang lebih begini: aroma, seperti manggis matang tidak ada aroma tajan dari buah kupas ini; tekstur, secara keseluruhan renyah, jadi kita seperti menggigit jambu biji atau buah pir mengkal, sama sekali jauh dari lembutnya manggis matang; rasa, semula diduga sangat asam, ternyata malah sama sekali tidak asam, lamat-lamat manis dan segar di mulut. Tak terasa satu tusuk habis dan lanjut tusuk kedua. Jelas keunikan ini sesuai dengan selera.

Saat macet masih lanjut terus meski perlahan mulai gerak, rasanya ingin membeli lagi tapi tidak terlihat penjualnya. Juga saat kembali ke Padang, tidak macet lagi jalanan, dan upaya mencari penjaja manggis mengkel gagal.

Ahh. Semoga lain kali masih berkesempatan mendapatkan buah manggis mengkel yang enak ini.

Lihat juga:

20140106-215131.jpg

20140106-215056.jpg

20140106-215014.jpg

20140106-214924.jpg

20140106-214805.jpg

Standar

Passion of Martabak

As a photographer and street food enthusiast, I realize that it is important to capture the passion of food street peddlars that is a very essential thing for them to survive. As we know living in the street is not easy, and is more difficult if you are selling food. By capturing their passion I wish to be able to share their passion to more and more people, getting a bigger audience, hopefully it could bring benefit to them.

Passion of Martabak 2

As an example here, the old man selling Martabak Manis in the junction of Suryakencana, Siliwangi, Roda and Aut Roads of Bogor city. He is almost 70 years old, and usually start making his Martabak there around 3pm until finished. Which could be as early as 5 or 6 pm. He works alone, so watching him come pushing his Martabak cart and start preparing the charcoal fire and interact with customer is a very interesting thing to do.

Passion of Martabak 3

He works very efficiently, a bit mechanical maybe, because as he is taking orders (as I have never see him without customer), he has to manage 3 work in process. First is the Martabak dough in the small pail, he waits for it to rise. Second is the Martabak being cooked in the pan (many things to watch, from the beginning till it is ready). Third, is adding the customer ordered topping and wrapping of the end product, until delivery and payment. Not to mention maintaining the quality of fire.

I hope these pictures could represent him well.

Passion of Martabak 4

A cross posting from my other blog Inilah Aku.

Fotografi Makanan, Kecil/Cemilan, Tenda/Warung

About Passion (And Street Photography) – Crossposting

Gambar
Bistro/Cafe, Fotografi Makanan, Kecil/Cemilan

Singkong … Maknyuss!!

Ada masanya hidangan satu ini sering dilecehkan dan hanya laku dijual di pinggir jalan. Tapi saat ini persepsi akan singkong sudah berubah jauh, dan dihidangkan dibanyak tempat makan yang keren-keren. Tampilannya juga aneka ragam, mulai yang sederhana sampai yang diolah secara ekstrim.

Pasangannya teh panas gula batu

Baca lebih lanjut

Standar