Merah Putih dari Lereng Merapi

1 December 2009

Lah, ada urusan apa nih dengan bendera kebangsaan kita kok pakai Merah Putih segala? Ah ini ya urusan bangsa juga, cuma sekarang yang diceritakan tetap urusan makan-makan di Indonesia. Merah dan Putih ini buah tropika yang dihasilkan dari kebun petaninya di Desa Pakem, Yogya, di kaki Merapi. Buah tropika adalah buah yang cocok untuk ditanam di Indonesia yang iklimnya tropis, meskipun belum tentu asalnya dari Indonesia.PC010820

Read the rest of this entry »


Selamat Hari Raya Idul Adha

27 November 2009

Anggrek Hari Raya

Eid Mubarak!

Muslim brothers & sisters! May the choicest blessings of Allah fill your life with peace, happiness and prosperity.

Happy Eid ul-Adha!


SKM HABIB : enak sekali !!!!

16 November 2009

Sebetulnya sudah beberapa kali saya mencoba sate (jenis Pekalongan) yang disajikan oleh SKM "HABIB" yang berlokasi di Kampung Melayu Besar ini, namun demikian kesan yang saya peroleh saat menyantapnya kemarin kok sangat berbeda ya … Ini sedikit kisah tentang Sate Habib nan lezat …

Sate HABIB

Read the rest of this entry »


RM Betawi Ibu Khadijah: Soto, uduk, ikan mas & empal

7 November 2009

(Cerita kuliner di Jakarta lagi ya … udah lama nggak makan yang begini ha ha ha….. Maaf lupa bawa kamera, jadi fotonya cuma pakai kamera HP 1.3MP saja jadi kurang jelas)

Kemarin dulu pagi karena urusan kerja terpaksa saya berangkat pagi dari rumah menuju Kemang, tanpa sempat sarapan. Selesai urusan segera menuju ke arah PN Jaksel di Ampera Raya dalam keadaan sangat lapar. Sudah di Ampera, lewat dari belokan Pejaten Barat sebelum Arsip Nasional RI, terbaca tulisan RM Betawi Ibu Khadijah disebuah rumah makan kecil… (seberang Lembur Kuring – Bibet) Ah ini dia solusi untuk rasa lapar saya, segeralah saya berhenti dan parkir. Memang setiap kesempatan bisa untuk kegiatan kuliner he he he.

spanduk

Read the rest of this entry »


Selamat tinggal Shanghai

2 November 2009

Pagi ini suhu sudah turun sampai 12°C, sangat amat dingin buat orang Jakarta. Ramalannya sih minggu ini suhu tertinggi 14°C, berarti bisa 7-8C itu. He he untung ini baru terjadi saat turis sudah mau pulang Jakarta, bayangkan kalau jalan pas dingin sebegitu waduh mengkerut nanti badan ini, dan bajunya juga nggak punya..

Pagi ini kami akan segera terbang dengan SQ ke Singapore dan sambung lagi ke Jakarta. Seharusnya sore ini sudah kembali ke kehidupan normal, dan mengejar target akhir tahun… He he kan sudah libur tiga minggu.

Okay.. Jakarta kami kembali.


Kesulitan Update Perjalanan

24 October 2009

Entah mengapa beberapa update perjalanan nampaknya tidak bisa lagi diposting via email. Sekarang test email ini tanpa lampiran foto, semoga mau diterima .

Sampai saat ini sudah selesaikan 4 rute shanghai walks dari 6 yang ada. Tapi sudah ada buku jilid dua dengan 6 walks lagi he he he jadi masih banyak bekal untuk minggu depan.

Hari kamis dan jumat jalan-jalan ke Hangzhouw, sekitar dua jam perjalanan dari Shanghai. Kota yang sangat indah untuk jalan-jalan, ada begitu banyak tempat wisata. Makanannya juga enak-enak lho disana.

Nanti malam akan ada dinner dengan Cricket Club dan besok siap menuju Pinghu untuk program dengan Habitat for Humanity.


Shanghai: walks di Xujiahui … lanjutan Papaya…

20 October 2009

Begitu keluar dari Guanqi Park, maka pandangan langsung ditujukan ke seberang dimana ada gedung dengan kubah lucu … ternyata memang disitu adalah gedung Shanghai Astronomical Observatory, pantas seperti di TIM kubahnya … tapi letaknya dipuncak dari gedung berlantai 19 yang sudah disana sejak 1999. Saya tidak ke gedung SAO, hanya melihat dari seberang saja… SAO ini juga penggabungan dua lembaga sejenis yang didirikan para Jesuit, yang masing-masing ada di Siccawei (1872) dan Sheshan (1900), tapi sejak 1950 dikelola pemerintah Cina.

Perjalanan dilanjt dengan berjalan kembali menuju Caoxi Bei Lu, tetapi sesampai didepan Sports Hotel berhenti dulu, menatap ke seberang dimana ada gedung tua abu-abu putih 4 lantai, konon ini dulu adalah Seminari Tinggi untuk pendidikan para calon imam. Dibangun sejak 1845 sampai 1929, juga digunakan untuk kediaman uskup. Sayang yang terlihat dari sini adalah bagian belakangnya, dan agak jauh kalau mau kebagian depannya. Gedung ini bersebelahan dengan sebuah kantor polisi. Konon pula lokasi Sports Hotel adalah lokasi Seminari Menengah, sayang sekarang sudah tak ada lagi. Selesai melihat dan foto perjalanan dilanjutkan lagi.

Sampai persimpangan Nandan Lu dan Caoxi Bei Lu saya berhenti sebentar melihat sebuah patung Xu Guanqi yang didirikan disana. Dan dilanjutkan ke Puxi Lu untuk memasuki gedung Xujiahui Observatory (sekarang Shanghai Meteorogical Bureau), yang semula dibangun tahun 1872 oleh para Jesuit didekat gereja disana. Tetapi tahun 1901 mereka membangun gedung lebih besar dilokasi sama. Dari luar sudah nampak keindahan gedung tiga lantai berbata merah. Eh pas dipintu dihadang pak satpam, yang sama sekali tak mengijinkan untuk masuk kedalam, mana gak ngerti bujuknya bagaimana lagi … ah sayang ya, tapi mau apa lagi kan dia yang kuasa ..

Perjalanan dilanjutkan ke sebelahnya, yaitu St. Ignatius Cathedral. Nah didepan sini dan di taman seberangnya kembali ada dua pasang calon pengantin yang sedang mengambil foto-foto. Foto cuma diluar halaman Katedral, didalam sudah dipasang tanda tidak boleh foto. Suasana sunyi dihalamannya, dan gerbang tertutup. Disana tertera jadwal misa setiap harinya dan juga (sepertinya) jadwal untuk kunungan wisatawan siang hari jam 2-4 .. wah masih lama dong. Nah sedang disini ada orang (seperti romo) berjalan keluar gerbang dan dibukakan pak satpam… pas deh langsung kasih kode tangan ’saya mau masuk’ .. jawab satpam ‘enggak boleh’ pakai tangannya juga.. Kasih kode lagi ‘mau doa di dalam ..’ Nah dia kan gak bisa bilang enggak masa mau doa di Katedral dilarang … ya diijinkan masuk, tapi langsung tunjuk kamera dan tanda kamera coret … ya nurut deh kamera masuk dalam tas.

Gedungnya katedral ini megah dan indah, selesai dibangun tahun 1910, tetapi akibat perang mengalami kerusakan yang cukup parah dan lama digunakan sebagai gudang makanan sampai dikembalikan ke Diosis Shanghai tahun 1979.. saat ini kaca-kaca jendelanya dibangun baru berdasar motif cina dan mendapat sumbangan dari banyak pihak (bisa dibaca pada tiap kapel yang ada disana). Bagian dalam sebetulnya indah, tetapi sangat sederhana … kursi yang digunakan untuk ibadah pun sangat sederhana … Cukup banyak patung dan lukisan yang ada didalam sini .. Oh iya, supaya menepati kata-kata diluar tadi.. saya sempat cukup lama berdoa disini … mumpung juga suasananya sangat sepi sehingga bisa berdoa dengan tenang. Keluar bangunan melihat-lihat ke taman di sebelah, sebenarnya mau coba masuk ke pastoran di belakang, tetapi tidak enak.. sudah ditulis ‘private’. Ya artinya lanjut lagi deh …

Keluar katedral, disebelahnya berdiri megah bangunan Diosis Shanghai, tetapi ini gedung baru dan tidak masuk tujuan wisata …. Perjalanan dilanjutkan ke Zi Ka Wei (atau Xujiahui) Library, terdiri dari dua bagian … yang berbalkon indah dibangun 1847 (semula untuk kediaman pastor) dan yang berjendela kisi dibangun 1896 (untuk perpustakaan) .. keduanya direnovasi tahun 1931. Tanda renovasi ini masih terbaca di depan pintu masuk. Disini tur keliling (gratis) baru diaakan jam 2 juga .. jadi saya tidak bisa melihat kebagian dalam dan basementnya … sayang sih. Cuma nekat saja naik kelantai 1, tidak pakai kartu perpustakaan .. bilang mau lihat-lihat .. dan memang di ruang baca yang indah ini terpajang sebuat pahatan kayu dan terakota yang indah didindingnya … ini karya tahun 1850an oleh seorang pastur yang mengajar seni pahat dan lukis di panti asuhan. Disini juga sudah ada tanda dilarang foto, tetapi pak satpam berbaik hati mengijinkan satu kali foto ke arah dinding berterakota…

Keluar gedung sempat minta tolong untuk difotokan satpam, yang ternyata kali ini sangat ramah… bahkan menolong foto berbagai pose dimuka gedung… he he tumben. Kembali perjalanan dilanjutkan… kali ini menyeberang, maksudnya turun lewat lorong-lorong metro ketujuan diseberang jalan.

Gedung yang dituju dulu digunakan sebagai biara dari para biarawati Jesuit, sejak tahun 1864. Namun saat ini digunakan sebagai restoran masakan shanghai .. Ye Olde Station Restaurant.. Sampai dipintu restoran bilang sama pelayan mau lihat-lihat, dan diijinkan. Jadi masuklah menikmati dekorasi ruang resto yang indah-indah, sampai kebelakang sekali dan masuk ketaman yang diisi dua gerbong makan dan satu loko … katanya satu gerbong dulu dipakai Ibu Suri Ci Xi ( -1908) dan satu lagi Son Qing Ling istri dari Dr Sun Yat Sen .. pendiri RRC. Sebetulnya ada kapel dilantai satu, tapi kok kurang nekat ya mau kesana lewat restonya .. he he..

Keluar dari sini masih ada satu tujuan, yaitu ke Chongsi Building tapi tidak keburu karena sudah ditelpon adik buat makan siang … he he jadi batal deh … Sampai sini saja menapaki jejak pastor jesuit di Xujiahui …

[Habis makan siang melanjutkan walks ke bagian timur dari French Concessions, yang sangat menarik]


Ada “Papaya, Mangga, Pisang, Jambu ….” di Shanghai

20 October 2009

"Papaya, mangga, pisang, jambu …
datangnya dari Pasar Minggu ..
disana banyak penjualnya ..
dikota banyak pembelinya .
.. dst dst"

Ah ini lagu yang sangat familiar sejak kecil dan cukup "ngangeni" bagi kuping saya yang sudah seminggu ini mendengar bahasa indonesia hanya dari 2 orang dewasa dan satu infant, lha tapi kok kenceng banget ya yang nyanyi … eh eh eh ternyata itu lagu yang diputar CD yang dipakai latihan dansa oleh para lansia di Guanqi Park, Xujiahui. Berikut ini kisahnya ya ….

Sesudah seminggu jadi turis umum yang berwisatanya ke tempat-tempat ramai (Lujiazui, Zhujiajiao, Yu Garden & Yu Yuan, Tian Zi Fang dan Bund), maka semangat semakin membara untuk memulai fase jadi turis yang lebih seru lagi yaitu melakukan jalan kaki mengunjungi tujuan-tujuan menarik, kalau dibuku referensi dan di google maps sering dsebut dengan "walks" .. ya jalan-jalan. Ada beberapa buku yang cukup menarik sempat saya baca dalam seminggu ini, isinya sih sangat menarik, tetapi beberapa kok agak sulit mau menerapkannya … Semua buku yang berisi "walks" akan berkisah tentang latar belakang atau tema dari walks yang ada, latar belakang sejarah, geografis, arsitektur, dll yang menarik dan relevan akan apa yang akan kita jalani. Point of interest yang perlu disimak dan dicari. Juga bagaimana melakukannya: start dimana, berjalan kemana, perkiraan waktu tempuh, petunjuk jalan, istirahat (termasuk toilet yang baik – khusus untuk Shanghai ini penting), minum/makan dan berakhir dimana. Namun saya jatuh cinta sekali tiap membaca walks yang dikisahkan oleh buku ini: "The Streets of Changing Fortune – Six Shanghai Walks" oleh Barbara Green- Tess Johnston- Ruth Lear- Carolyn Robertson. Semuanya wanita, expat dan sudah tinggal beberapa tahun di Shanghai. Paling lama Tess Johnston yang sudah lebih 25 tahun. Mengapa? Justru karena bahasanya sangat sederhana, pedomannya praktis dan lugas, dan detail sekali.

Walk pertama yang saya lakukan judulnya "A meeting of minds: Academic and religious life in Xujiahui – (A rich and rather different history)". Nah untuk itu saya bangun jam 6 pagi, dan 6.30 berangkat meninggalkan Pudong ikut ipar saya ke kantor di Huaihai Lu. Disana sarapan dulu di Wagas, resto italy yang simple karena pangsa pasarnya adalah orang kantoran dan sudah buka jam 7 pagi.. hari ini saya pertama disana … pesan Panini (dengan telur orak-arik dan bacon) serta kopi total sebesar RMB 34 – ini harga sebelum jam 10pagi – selanjutnya menu lunch atau breakfast ini jadi lebih mahal lagi. Baca-baca lagi dan siapkan kartu metro pinjaman, ke toilet yang bagus digedung sana, dan karena santai-santai jam 8.15 baru turun ke stasiun metro untuk menuju stasiun Xujiahui yang 4 stasiun jauhnya menggunakan Line 1 dari stasiun Huangpi tempat mulai perjalanan.

Memasuki areal keberangkatan saya cek dulu saldo kartu Metro pinjaman, ada RMB59 (sebetulnya masih cukup buat beberapa hari), nah supaya gaya ya mau top-up lagi RMB50, he he malah jadi dibantuin sama orang dibelakang .. mungkin dia gemes kok ini lama banget sih memandang-mandang mesin sesudah masukin kartu.. he he ternyata mesin itu bisa pilih berbahasa inggris. Bahkan keluar data kartu ini habis dipakai kemana saja … oh iya kartu metro ini bisa untuk bis dan taksi juga lho … Masuk kedalam, cukup didekatkan saja kartu ini tidak perlu swipe .. langsung turun lagi keperon .. lihat peta dipintunya yang mana ke Xujiahui .. oh ternyata gampang sekali untuk tahu arah yang dituju … begitu metro datang langsung naik. Tak lama sudah sampai ditujuan, oh iya pengumuman stasiun berikut di metro dalam bahasa mandarin dan inggris, dan tulisan nama stasiun ada juga latinnya. Jadi asal jelas tujuan kita tidak akan kesasar. Oh iya, biayanya RMB3 saja …

Dari stasiun Xiajiahui seharusnya keluar di pintu exit 1 (dari 14 kalau tak salah) ke Guanqi Park di Nandan Lu, ternyata exit 1-4 sedang ditutup untuk perbaikan, harus lewat exit 5 .. haduh belum apa-apa sudah nggak urut nih … ternyata benar, setelah bertanya ke beberapa orang sambil tunjukkan tujuan dipeta akhirnya ada yang bisa bahasa inggris dengan baik dan menunjukkan arah untuk menyeberang ke Nandan Lu dari Caoxi Bei Lu.. Akhirnya on track juga deh..

Sampai dengan selamat di Guanqi Park, sebuah taman kecil yang sejarahnya agak berbeda .. karena disini dimakamkan Xu Guanqi (atau Paul Hsu) seorang terpelajar Cina yang bersahabat dengan seorang pastur Jesuit, Matteo Ricci di awal 1600-an; sehingga menjadi Katolik bersama seluruh keluarganya. Xu Guanqi sendiri sebagai seorang terpelajar memiliki minat dalam pertanian, ilmu perang, astronomi dan hal-hal ilmiah lain. Karyanya tentang pertanian menjadi buku referensi bagi banyak orang. Karena mendalami astronomi, dia juga mengamati kalendar dan melakukan usulan perubahan perhitungan kalendar Cina. Xu Guanqi meninggal tahun1633, dan mewariskan cukup banyak lahan yang dimilikinya kepada gereja Katolik. Peninggalan Xu Guanqi ini menjadi tema dalam walk ini …. Karena dia dimakamkan di lokasi Guanqi Park (sekarang ini), maka keturunannya banyak mendirikan rumah disekitar makamnya, sehingga wilayah sekitarnya diberi nama Xu Jia Hui … atau "Rumah Keluarga Xu". Sebetulnya kalau ke Xujiahui saat ini yang terbayang adalah mall-mall elektronik yang bertebaran disekitar stasiun ini….

Nah memasuki Guanqi Park dari arah stasiun Xujiahui, saat kita berada di gerbang sudah bisa melihat sebuah jembatan batu yang melintasi kolam, dan dibelakang jembatan berdiri sebuah gapura indah 4 tiang yang dari tengahnya terlihat sebuah salib putih besar. Dibelakang salib terdapat tiga gundukan tanah, dan inilah makam Xu Guanqi. Salib besar dipasang tahun 1933 pada peringatan 300 tahun meninggalnya beliau, dan daerah makam ini dijadikan Cultural Heritage sejak 1988. dan disediakan museum kecil untuk mempelajari sejarah dan karya beliau di taman ini.

Sambil berjalan ini nampak bahwa di Cina taman bukan sekedar hiasan, tetapi merupakan tempat berguna bagi penduduk disekitarnya. Cukup banyak lansia yang berlatih taichi, atau berolahraga lain (cukup banyak disediakan fasilitas olah raga di taman ini), juga ibu yang membawa bayi dan balita berjalan ditaman, bapak-bapak main kartu atau sekedar ngobrol… Dan yang jumlahnya besar adalah para lansia yang sedang berdansa-dansa, sangat senang mereka rupanya …. Yang juga menarik adalah bapak yang membuat kaligrafi di lantai batu dengan kuas besar menggunakan air sebagai tinta… wah-wah sangat filosofis ini (rupanya cukup banyak yang melakukan ini di banyak tempat).

Nah salah satu yang menarik perhatian adalah saat akan keluar dari Guanqi Park terdengar lagu Pepaya tersebut yang menghentikan langkah saya untuk menunggu mereka selesai, siapa tahu lagu Indonesia lagi yang diputar … he he mungkin ada yang dari Indonesia diantara para lansia itu? Sayang lagu selanjutnya adalah Banana Boat dari Belafonte … jadi deh saya melanjutkan walk pertama.. (di sambung dicerita lain ya sudah panjang nih….)


Shanghai: Turis mulai jalan kaki

19 October 2009

Pagi hari ini Turis sebelum jam 6 sudah bangun dan segera mandi. Kok tumben pagi …? He he iya karena pagi ini akan mulai program keliling kota jalan kaki … Mudah-mudahan cukup kuat ya kaki yang memang tidak bisa jalan kaki banyak (soalnya sudah 15tahun lebih ada asam uratnya, jadi tidak bisa banyak kena beban .. Belum lagi bekas operasi masalah lelaki tahun lalu kadang masih terasa)..

Jam 6.30 ikut ipar berangkat ke kantor..wah enak pagi begini tidak ada traffic ..jadinya jam 7 sudah sampai di kantor (Huaihai Lu) .. Hebat bener iparku ini, yang tiap hari sudah ada di kantor jam segini, yang ada baru mas dan mbak OB .. Dia sudah siap kerja …

Fotokopi paspor dulu, supaya aman ..bawa kopian saja.. Maklum tidak terjamin juga keamanan disini, tetap masih ada yang namanya copet…dan sebangsanya, meskipun sampai saat ini belum mengalami, tetapi lebih baik jaga-jaga bukan?

Jam 7.15, mampir di Wagas, resto Itali konsep sederhana yang cuma sedia Panini (alias roti bakar), dan sereal untuk sarapan .. Kalau makan siang ada salad dan pasta .. Tadi makan panini dengan scrambled egg dan bacon ..sambil minum kopi Illy .. Baca-baca rute hari ini.. Tanya-tanya stasiun shanghai metro, arah jalan dll..dan sekarang siap untuk mulai wisata jalan dan wisata kuliner sendiri.

Perlengkapan: beberapa buku jalan-jalan seputar kota Shanghai, beberapa peta, satu kamus bahasa inggris-cina dan sebaliknya.. kamera saku dan cadangan baterai, satu kaos ganti dan HP …

Okay…nanti dilaporkan jalan-jalannya ya..


Shanghai: hari ke-5 Tian Zi Fang @Tai Kang Lu

18 October 2009

Tidak terasa sudah sampai pada week end pertama kami di Shanghai, hari Sabtu ini para turis baru akan jalan-jalan sore hari karena pagi sampai dengan siang ada open day di sekolah keponakanku dan orangtua beserta anak wajib hadir … sekolah Indi letaknya tidak jauh dari rumah, kalau naik ojek motor hanya RMB7 saja sudah cukup … oh iya sekolah disini cukup ketat, untuk menjemput seorang siswa (yang masih termasuk infant …) harus membawa kartu penjemput jadi tidak akan sembarang diserahkan kepada orang. Siangnya kami bersantap nasi goreng yang nasinya cukup banyak tersedia dari beberapa hari kedatangan kami …. tinggal diberikan peas dan bacon ….

Sore hari kami menuju ke Tai Kang Lu (alias Jalan Tai Kang) untuk menuju ke Tian Zi Fang, yang merupakan daerah wisata yang dikembangkan khusus untuk menampung para penjual karya seni disamping wisata kuliner tentunya.. makanya nama resminya adalah Shanghai Culture Industry Park. Semuanya berada dalam lorong-lorong diantara Taikanglu, Jianguozhonglu, Ruijinerlu, dan Sinanlu …. Sebetulnya kalau di Jakarta yang sangat potensial untuk dikembangkan adalah wilayah jalan Jaksa dan lorong-lorong Kebon Sirih di dalamnya …. Perkembangan lokasi ini lumayan pesat, dan saat kami kesana nampak sangat ramai oleh kunjungan turis manca negara, baik yang berbelanja maupun yang mencari makan …

Beberapa fotografer tenar sudah membuka ruang pamer (dan berjualan) di lokasi ini .. apalagi yang belum tenar pasti lebih banyak bukan. Berbagai barang kerajinan juga bisa didapat disana, yang pasti berbagai jenis rancangan pakaian ataupun bahannya juga ada … aneka kerajinan tangan, suvenir unik, bahkan toko sepeda modis pun ada …

Untuk wisata kuliner, disini banyak sekali didapatkan tempat makan (asia, eropa, amerika) yang nampaknya enak (dan yang memang enak) … paling tidak suasananya enak untuk duduk sambil ngopi, ngeteh atau minum wine dll …. … baik saat masih terang ataupun saat malam sudah tiba .. dan enaknya disini tidak dijumpai para pengasong yang menawarkan kita aneka produk palsu .. mungkin karena polisinya ada banyak banget ya …

Mulai dari jam 4 kami berjalan-jalan mengelilingi Tian Zi Fang, keluar masuk berbagai galeri, toko, dan lorong-lorong yang banyak buntunya juga … agak berbeda dengan pengembangan Xintiandi yang langsung memindahkan lebih dari 1600 keluarga, disini nampaknya pengembangan berjalan pelan-pelan karena masih didapati beberapa rumah yang digunakan untuk keluarga biasa … Tidak terasa sudah mulai malam, dan saat jam menunjukkan pukul 7 kami memasuki satu Trattoria dengan nama indah .. Luna Bianca … satu tempat makan yang sangat enak (he he meskipun dia terletak dilorong sepi) dan hanya ada 12meja @2 orang dibagian dalam, 2 meja diluar …sebagian bisa digabung untuk kelompok besar … (cerita Luna Bianca menyusul ya) … yang pasti nampaknya dia lebih enak dari resto itali yang banyak dilewati disana … …

Pukul 8.30 kami sudah siap untuk kembali dan pukul 9 malam pun sudah sampai di Pudong lagi ….